Gempa dan tsunami yang melanda Jepang sangat mengganggu industri otomotif dan elektronik di Indonesia. sebab sebagian mesin dan komponen yang dibutuhkan industri di Indonesia masih impor dari Jepang.
Menteri Perindustrian, MS Hidayat mengatakan sektor otomotif dan elektronik bisa terkena imbas bencana yang terjadi di Jepang. Hal ini karena kebutuhan impor mesin dan komponen yang belum bisa diproduksi di dalam negeri. "Dampaknya pasti ada tapi semoga tidak terlalu besar,".
Hidayat mengatakan kerjasama business to business mungkin tidak akan terlalu terpengaruh. Hal itu bisa terlihat dari rencana Daihatsu yang akan membangun pabrik baru senilai Rp 2 triliun pada akhir semester I tahun ini.
Di sisi lain, adanya bencana bisa mempengaruhi kerjasama antar pemerintah. Contoh, perundingan program Metropolitan Priority Area (MPA) mungkin perundingannya akan bergeser dari jadwal semula.
Hal ini disebabkan karena pemerintah Jepang melalui Japan Bank for International Cooperation (JBIC) dan Menteri Perekonomian, Perdagangan, dan Industri (METI) masih memprioritaskan program pemulihan pascabencana. Hidayat mengatakan nilai investasi Jepang di Indonesia hingga tahun depan lebih dari US$ 24 miliar.
Sementara itu, Hidayat memperkirakan volume ekspor Indonesia ke Jepang tidak akan banyak berubah. Meski demikian masih ada kendala beberapa pelabuhan ekspor di Jepang yang rusak dan perlu perbaikan. Selain itu jaringan telekomunikasi juga belum normal.
Menteri Perindustrian, MS Hidayat mengatakan sektor otomotif dan elektronik bisa terkena imbas bencana yang terjadi di Jepang. Hal ini karena kebutuhan impor mesin dan komponen yang belum bisa diproduksi di dalam negeri. "Dampaknya pasti ada tapi semoga tidak terlalu besar,".
Hidayat mengatakan kerjasama business to business mungkin tidak akan terlalu terpengaruh. Hal itu bisa terlihat dari rencana Daihatsu yang akan membangun pabrik baru senilai Rp 2 triliun pada akhir semester I tahun ini.
Di sisi lain, adanya bencana bisa mempengaruhi kerjasama antar pemerintah. Contoh, perundingan program Metropolitan Priority Area (MPA) mungkin perundingannya akan bergeser dari jadwal semula.
Hal ini disebabkan karena pemerintah Jepang melalui Japan Bank for International Cooperation (JBIC) dan Menteri Perekonomian, Perdagangan, dan Industri (METI) masih memprioritaskan program pemulihan pascabencana. Hidayat mengatakan nilai investasi Jepang di Indonesia hingga tahun depan lebih dari US$ 24 miliar.
Sementara itu, Hidayat memperkirakan volume ekspor Indonesia ke Jepang tidak akan banyak berubah. Meski demikian masih ada kendala beberapa pelabuhan ekspor di Jepang yang rusak dan perlu perbaikan. Selain itu jaringan telekomunikasi juga belum normal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomentar